- by david hall
- 5 tahun yang lalu
Jakarta, MS
Derita menyelimuti Tanah Air Indonesia. Bencana
alam yang datang bertubi-tubi telah memakan korban jiwa di berbagai daerah.
Reaksi kritis publik ikut bersahut-sahutan. Masalah kerusakan lingkungan hidup
disebut jadi pemicu.
Terjadinya degradasi lingkungan hidup dipandang
sebagai faktor utama penyebab bencana alam di belahan Indonesia. ‘Pemerasan’
terhadap alam dinilai telah menggurita.
Sorotan tersebut dikumandangkan Wakil Ketua
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), Jazilul Fawaid.
Dikatakannya, orientasi pembangunan yang berbasis pada sumber daya alam (SDA)
mengakibatkan eksploitasi alam terjadi dimana-mana.
"Di situlah seringkali bencana muncul yang
berupa banjir, tanah longsor makanya penting bagi kita merenung, mengevaluasi
terkait orientasi pembangunan yang ramah lingkungan, bukan orientasi pembangunan
yang merusak lingkungan dan menimbulkan bahaya buat masyarakat," ujar
Jazilul dalam keterangannya, Senin (18/1).
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP)
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menilai, persoalan tersebut seringkali
terjadi bahkan terus berulang dan tidak ada perbaikan atau evaluasi kebijakan.
Oleh karenanya, ia meminta pemerintah dan seluruh elemen masyarakat
mengevaluasi dan mencari tahu faktor utama bencana yang datang bertubi-tubi
itu.
"Di daerah juga, ini banyak terjadi di
daerah, jadi kita semua harus ikut mengoreksi, termasuk pemerintah daerah, jadi
tidak hanya yang di pusat," terangnya.
"(Sebab) ada faktor alam yang dirusak oleh
manusia atau faktor-faktor lain. Jadi ini menjadi bahan pelajaran buat kita
semua sebagai bangsa," imbuhnya.
Diketahui, kata dia, berdasarkan data dari Pusat
Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB), sebanyak 10 kabupaten kota terdampak banjir Kalimantan Selatan, per
Minggu (17/1). Kabupaten kota tersebut antara lain Kabupaten Tapin, Kabupaten
Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu
Sungai Tengah, Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai
Selatan dan Kabupaten Batola.
Tak hanya itu, data per 16 Januari sekitar pukul
18.00 WIB mencatat 112.709 jiwa terdampak dan mengungsi serta 27.111 rumah
terendam banjir. Sementara akibat gempa di Sulbar, berdasarkan data per (17/1)
pukul 20.00 WIB, Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa Magnitudo 6,2 yang
terjadi, Jumat (15/1), pukul 01.28 WIB atau 02.28 waktu setempat di Provinsi
Sulawesi Barat menjadi 81 orang. Rinciannya 70 orang meninggal dunia di
Kabupaten Mamuju dan 11 orang di Kabupaten Majene.
Jazilul meminta pemerintah melakukan tindakan
cepat untuk menangani atau memberikan bantuan darurat bagi para korban bencana
di berbagai daerah. "Apa yang dibutuhkan mungkin makanan minuman, bantuan
yang darurat secepatnya pemerintah harus bisa menangani untuk korban,"
jelasnya.
Sebagai informasi, bencana alam yang datang
bertubi-tubi menghantam negeri ini di awal tahun ini. Di antaranya, banjir
besar di Kalimantan Selatan dan sejumlah daerah lain, gempa bumi di Sulawesi
Barat, letusan Gunung Semeru, luapan air laut di Manado, Longsor di Sumedang
dan berbagai bencana alam lain.
PDIP IKUT KRITIK MASALAH LINGKUNGAN ////ANKJDL
Fenomena alam yang telah menelan korban di
penjuru Indonesia turut ditanggap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Kritik diberikan juga terhadap persoalan lingkungan. Pengabaian terhadap
masalah ini dinilai menjadi penyebab.
Ketua Umum (Ketum) PDI Perjuangan Megawati
Soekarnoputri menyebut berbagai bencana alam yang terjadi di
Indonesia di awal tahun 2021 disebabkan masyarakat Indonesia mengabaikan
lingkungan. Mega mengatakan, bencana alam bisa dicegah jika semua pihak sadar
lingkungan. Ia menyayangkan banyak pihak tidak peduli terhadap persoalan
lingkungan.
"Sebenarnya kalau kita tidak reaktif, tidak
reaktif, maka sebenarnya bencana yang kemarin terjadi di Sulawesi Barat, lalu
di Kalimantan Selatan karena banjir bandang, sebenarnya bisa
di-minimize (diperkecil)," kata Mega pada rapat DPP PDIP secara
daring, Senin (18/1).
Ia menilai, banyak pihak menganggap bencana alam
hanya sebagai pemberian Tuhan. Padahal seharusnya bencana dijadikan pelajaran
untuk memperbaiki lingkungan. "Berpikirnya itu bencana datang dari Gusti
Allah. Tentu iya, saya sangat mengerti, tapi manusia berusaha untuk menghindari
hal tersebut," ucap Presiden kelima RI itu.
Dalam kesempatan itu, Sekjen PDIP Hasto
Kristiyanto juga menyoroti berbagai bencana yang melanda Indonesia. Ia menyebut
kerusakan lingkungan jadi faktor utama.
"Bencana lingkungan bagaimana Kalimantan
Selatan akibat penebangan dan penambangan. Kita lihat kerusakan lingkungan
sangat parah sehingga kemudian banjir bandang," ujar Hasto.
PEMERINTAH SULUT DIMINTA LAKUKAN PEMULIHAN
LINGKUNGAN ////ANKJDL
Bencana alam juga menghantam Sulawesi Utara
(Sulut). Khususnya Kota Manado, banjir dan longsor telah merenggut korban jiwa
bahkan kerugian. Nada kritis pula datang dari kalangan aktivis. Pemerintah
didorong lakukan pemulihan lingkungan hidup.
Upaya pemulihan lingkungan dinilai harus segera
dilakukan. Ini untuk mengantisipasi banjir dan longsor yang bisa saja terjadi
kembali. Para aktivis menilai persoalan bencana alam seperti banjir dan longsor
di Sulut, umumnya karena perubahan fungsi alam yang terjadi dimana-mana.
"Adanya pertambangan, perusakan hutan, masih banyaknya pembangunan yang
tak berpihak kepada lingkungan hidup jadi penyebab. Maka pengembalian fungsi
hutan harus dilakukan, penghijauan kembali dan hentikan eksploitasi yang
membabi buta. Pemerintah harus mengontrol dan mendampingi," kata aktivis
Sulut, Helena Sulu, Senin kemarin.
Khususnya lagi bagi dia yang terjadi di Kota
Manado. Sudah bertahun-tahun di setiap musim penghujan, genangan kerap terjadi.
Bahkan pernah mengalami banjir bandang. "Masalah pertama di Kota Manado
adalah penataan kota dan pembangunan yang tak lagi terkontrol. Ini membuat
daerah-daerah resapan air berubah fungsi. Maka izin-izin yang dikeluarkan perlu
kita pertanyakan," tegasnya.
Berikutnya infrastruktur yang dibangun dinilai
banyak asal-asalan. Tidak mempertimbangkan keluar masuk air. "Seperti kita
lihat ada pembangunan drainase, medannya seperti berlembah tapi dibangun
mengikuti medannya, akhirnya tidak ada tempat pembuangan air. Terjadilah
genangan. Rugi anggaran karena tidak memberikan manfaat. Pembangunan di Manado
perlu dikontrol, pemerintah jangan hanya mengejar keuntungan sesaat dari bisnis
di Kota Manado tapi tidak memperhatikan keselamatan dan kenyamanan banyak
orang. Setiap hujan masyarakat tak bisa tidur nyenyak," sorotnya.
Ditambah lagi, saluran-saluran penuh dengan
sampah plastik sehingga membuat air meluap ke jalan. Ini akibat pengelolaan
sampah dari rumah tangga tidak diatur dengan baik. Alur pengelolaan yang
harusnya sampai ke pembuangan akhir atau ke proses daur ulang tidak dikontrol
atau diatur dengan benar. "Ini menjadi PR (pekerjaan rumah)
pemerintah. Sosialisasi kepada masyarakat harus gencar untuk menjaga
sungai-sungai supaya tidak dicemari. Bantaran-bantaran sungai harus
diselamatkan. Penghijauan sungai perlu dilakukan. Limbah pembuangan rumah
tangga baik organik dan non organik juga harus diatur. Salah satu contoh kita
lihat yang terjadi di kawasan mall Kota Manado air laut mengembalikan sampah
plastik ke daratan. Alam sedang berproses dengan sendirinya," tuturnya.
(cnn/dtc/tim ms)