- by david hall
- 5 tahun yang lalu
Manado, MS
Awan gumul membungkus tanah Nyiur Melambai.
Sejumlah wilayah diterjang bencana alam. Efek amukan alam beberapa hari
terakhir telah memicu banjir, tanah longsor, angin kencang dan pohon tumbang di
beberapa tempat. Gelombang tinggi juga menyapu wilayah pesisir. Kota Manado
kena dampak terparah.
Fenomena bencana di awal tahun memang kerap
meneror warga Sulawesi Utara (Sulut), khususnya Manado. Rentetan peristiwa
serupa sering terjadi beberapa tahun belakangan. Di sisi lain, pemerintah juga
berupaya keras memulihkan berbagai dampak buruk yang ditimbulkan. Sering dengan
itu, seruan kewaspadaan kuat digaungkan.
Data yang diperoleh Media Sulut, cuaca buruk
mulai menerjang Sulut sejak Sabtu (16/1) hingga Minggu (17/1) kemarin.
Pemerintah dan pihak Basarnas telah mengumumkan adanya korban jiwa. Pada Sabtu
(16/1), lima warga termasuk satu anggota kepolisian meninggal dunia akibat
tertimbun longsoran tanah. Peristiwa ini terjadi di 3 titik berbeda. Longsor di
Kelurahan Perkamil merenggut 3 korban jiwa, masing-masing Fanny Poluan, Arni
Laurens dan seorang anak berusia 8 tahun, Chelsea.
Peristiwa yang sama terjadi di Kelurahan Paal IV
yang menewaskan Aiptu Kifni Kawulur, anggota Polsek Tikala. Di wilayah lain,
longsor juga terjadi di Kelurahan Malalayang Satu Barat dan merenggut 1 korban,
Meini Pondaag. Satu warga lain masih dalam pencarian Tim Basarnas Manado. Titik
longsor juga terjadi di Kelurahan
Ranotana Weru dan Tikala Baru. Beruntung tidak ada korban jiwa yang terjadi.
Basarnas juga melaporkan sedikitnya 12 titik
banjir yang terjadi di wilayah Manado. Ketinggian air bervariasi antara 10
hingga 50 cm. Titik banjir tertinggi dilaporkan terjadi di Jalan Bethesda
Kecamatan Malalayang, depan RSJ Ratumbuysang, dimana genangan air mencapai 50
cm. Pohon tumbang juga terjadi di beberapa tempat dan menyebabkan berbagai
dampak kerugian materil hingga kemacetan lalu lintas.
GELOMBANG PASANG SAPU WILAYAH PESISIR
Kondisi iklim yang labil di wilayah Sulut juga
memunculkan berbagai dampak bencana lainnya. Salah satunya gelombang pasang air
laut yang dilaporkan menyapu sejumlah wilayah garis pantai. Di pesisir pantai
Manado, kondisi ini terpaksa membuat pihak pengelola Pelabuhan Manado
memutuskan untuk memberhentikan sementara kegiatan keberangkatan kapal.
“Kondisi saat ini belum memungkinkan, jadi jadwal
pemberangkatan kapal dari pelabuhan Manado untuk sementara kita tunda dulu
sambil menunggu perkembangan cuaca selanjutnya,” kata Kepala Kesyahbandaran
Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manado Captain Mozes Karaeng.
Tak hanya di Manado, cuaca ekstrim juga melanda
sejumlah wilayah di Sulut. DI pesisir pantai Desa Bulo Kecamatan Mandolang,
Kabupaten Minahasa, gelombang tinggi telah menyebabkan beberapa kapal nelayan
yang bersandar di pesisir pantai terbalik dan rusak.
Begitu juga di wilayah pesisir Kabupaten Talaud.
Dua Desa yakni Desa Mala Timur, Kecamatan Melonguane dan Desa Riung, Kecamatan
Tampan’amma dilaporkan kena dampak gelombang tinggi. Di Desa Mala Timur, rumah
warga di pesisir pantai terdampak abrasi akibat gelombang pasang. Sementara di
Desa Riung, jalan di ujung jembatan nyaris terputus dihantam hujan lebat.
Kondisi yang sama juga terjadi di Kabupaten
Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Gelombang pasang menghantam tanggul di Desa
Batu Tajam Kecamatan Pinogaluman hingga jebol. Imbasnya, air laut masuk hingga
ke rumah-rumah warga pesisir.
Sementara di wilayah pesisir Sangihe, gelombang
pasang juga melanda beberapa wilayah pemukiman warga seperti Kelurahan Apengsembeka, Kelurahan Tidore, Pintu Aer,
serta seputaran Pertamina.
PEMERINTAH DAN BASARNAS GERAK CEPAT
Peristiwa bencana di Manado memantik gerak cepat
semua stakeholder terkait. Kepala Basarnas Manado, Suhri Sinaga mengatakan,
saat bencana terjadi dirinya langsung memerintahkan semua anggotanya untuk bergerak
ke lokasi-lokasi terdampak, baik banjir, pohon tumbang dan tanah longsor. “Saya
yang memimpin langsung di beberapa lokasi bencana untuk memastikan setiap titik
tempat kejadian bisa tertangani dengan cepat,” papar Sinaga dalam
keterangannya, Sabtu (16/1).
Hingga saat ini, Tim Sar Gabungan masih tetap
mewaspadai apabila ada bencana susulan di lokasi-lokasi yang baru. “Intinya
seluruh laporan-laporan yang masuk semuanya segera kami tindak lanjuti karena
ini menyangkut keselamatan jiwa manusia,” tandas Sinaga.
Pasca adanya laporan bencana alam yang melanda,
Pemprov Sulawesi Utara (Sulut) dibawah kepemimpinan Gubernur Olly Dondokambey
dan Wakil Gubernur (Wagub) Steven Kandouw, juga langsung bergerak melakukan
penanggulangan. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) yang dikomandani
oleh Evans Steven Liow, ikut membantu masyarakat yang menjadi korban tanah
longsor di Kelurahan Taas, Lingkungan VI.
Hal yang sama dilakukan Satpol PP Pemprov Sulut
dengan membagikan 500 nasi bungkus kepada warga terdampak banjir. Penyaluran
bantuan ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang jadi
korban banjir.
“Aksi kepedulian ini sebagai bentuk kepedulian
terhadap sesama. Bantuan nasi bungkus ini diharapkan bisa membantu warga
terdampak bencana banjir di Kelurahan Taas Manado,” kata Kepala Satpol PP
Pemprov Sulut Farly Kotambunan diwakili Kabid Trantib Valentino Sinaga.
Bantuan nasi bungkus yang diberikan jajaran
Satpol PP Pemprov Sulut ini mendapat sambutan baik dari masyarakat yang
terdampak banjir akibat curah hujan tinggi yang melanda Manado. “Kami sangat
berterimakasih atas bantuan ini. Pemerintah sangat peduli dengan kondisi warga
yang terkena banjir,” ujar Michael salah satu warga terdampak banjir di
Kelurahan Taas.
TOKOH AGAMA DOAKAN SULUT
Menyikapi situasi dan kondisi bencana alam yang
terjadi di Kota Manado dan sejumlah wilayah lainnya di Sulut, solidaritas juga
datang dari para pemuka agama. Ungkapan belasungkawa dihaturkan. Doa memohon
pemulihan kepada Tuhan juga dipanjatkan.
Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, Pdt Hein
Arina melalui Sekretaris Umum, Pdt Evert Tangel menuturkan, cuaca ekstrim saat
ini telah membawa dampak korban jiwa dan material. Terkait itu, pihaknya
mengimbau seluruh jemaat GMIM agar menggelar doa, baik secara pribadi, keluarga
maupun berjemaat.
“Doakan kiranya kondisi ini tidak berlanjut.
Kemudian seluruh jemaat juga selalu tetap waspada. Dalam artian, dengan segala
hikmat untuk melihat keadaan yang sedang dialami ini,” ungkap Tangel Minggu
(17/1).
"Waspadalah karena keadaan alam memang tak
dapat diprediksi. Berjaga-jaga, dan jangan bersikap masa bodoh. Jemaat
diharapkan bisa mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita yang
mengalami bencana di Kota Manado. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan warga
terdampak banjir dan tanah longsor," katanya lagi.
PENGAMAT USULKAN PEMBUATAN PERDA KEBENCANAAN
Kondisi bencana alam yang rutin melanda wilayah
Sulut tiap tahun memantik respon banyak pihak. Salah satunya datang dari pakar
sistem ekologi Universitas Negeri Manado (Unima) Mercy Rampengan SPi, MAppSc,
PhD. Dia menyebut, peristiwa alam ini terjadi karena faktor risiko bencana
berupa fenomena alam namun bersinggungan dengan masyarakat yang menjadi ujung
tombak penanggulangan bencana.
“Jika ujung tombak itu (masyarakat) tidak
menjalankan fungsinya dalam upaya pengurangan risiko bencana, maka dampak
bencana pasti menjadi lebih besar. Tapi pemerintah juga harus hadir, pertama
untuk memfasilitasi masyarakat agar paham terkait apa-apa saja upaya pengurangan
risiko bencana yang harus disiapkan. Jadi ini akan terkait hadirnya
aturan-aturan terkait kebencanaan,” tanggap Rampengan dalam konfirmasi, Minggu
(17/1).
Rampengan menyebut, Rencana Penanggulangan
Bencana (RPB) di Sulut, baik seluruh kabupaten/kota termasuk provinsi, sudah
lewat masa berlakunya. “Sepengetahuan saya sudah lewat (RPB), makanya Perda
Kebencanaan yang menjadi salah satu payung hukum sebaiknya segera mungkin ada
di seluruh wilayah Sulut,” imbuhnya.
Sebab dari pengamatannya, masyarakat sebagai
ujung tombak dalam upaya penanggulangan bencana banyak yang belum menyadari
peran serta menjalankan pola kehidupan yang berwawasan lingkungan, salah
satunya menjaga kebersihan daerah dari persoalan sampah. “Selain itu belum
banyak terbentuk kelompok masyarakat yang menjadi penggerak dalam upaya PRB,
baik pemetaan daerah rawan, pemetaan potensi lokal untuk penanggulangan bencana
berbasis masyarakat, hingga pembagian tugas dalam penanggulangan bencana,”
paparnya.
Untuk itu, Rampengan mendorong pemerintah
menggalakkan sosialisasi PRB sebelum bencana terjadi. Hal itu dinilai lebih
murah pembiayaannya dibanding respon, rehab atau rekon bencana. Selain itu
penataan tata ruang khususnya RDTR Rencana Detail Tata Ruang.
“Aapakah pemda di Sulut sudah memilikinya?)
Karena Mater 2020 di Indonesia baru memiliki 55 Perda RDTR. Padahal disini
semua diatur, RDTR berbasis mitigasi bencana bukan hanya berbasis pengembangan
ekonomi,” tegasnya.
Namun diakuinya pula, bencana adalah urusan
bersama semua stakeholder, bukan hanya pemerintah. Untuk itu menurut dia, perlu
sinergitas bersama dengan semua pemangku kepentingan dalam mengupayakan Sulut
sebagai daerah tangguh dalam menghadapi bencana.(tim ms)