- by david hall
- 5 tahun yang lalu
Manado, MS
Hasil memuaskan mampu dicapai Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sulawesi Utara
(Sulut) serentak Tahun 2020. Dari 8 pelaksanaan pesta demokrasi Bumi Nyiur
Melambai, ada 7 kabupaten kota berhasil dimenangkan. Raihan ini dinilai berkat
soliditas partai politik (Parpol) berlambang Moncong Putih tersebut.
Pakar politik Sulut, Ferry Daud Liando
menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang membuat PDIP menang. Hal itu karena
PDIP adalah satu-satunya Parpol yang paling solid di Sulut untuk saat ini.
Struktur kelembagaannya sangat kuat dari tingkat pusat, provinsi, kabupatenbl
kota, cabang hingga ranting di tingkat desa.
"Itulah sebabnya hampir semua calon yang
diusung PDIP menonjol di sejumlah daerah. Di satu sisi, calon-calon yang
diusung PDIP adalah figur-figur yang menambah mengakar dan memiliki nama besar
di masyarakat," ungkap akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat)
Manado.
Faktor lainnya menurut Liando, para pejabat yang
ditugaskan dan ditempatkan di daerah untuk mengisi kekosongan sementara itu,
sudah menjalankan visi dengan baik. Kelihatannya para pejabat sementara ini
memang berposisi netral. Tetapi kebijakan untuk memaksa Aparatur Sipil Negara
(ASN) di daerah yang dipimpinnya itu wajib netral sesungguhnya memberikan
keuntungan bagi calon-calon usungan PDIP.
"Di Minsel (Minahasa Selatan-red), Minut
(Minahasa Utara-red) dan Boltim (Bolaang Mongondow Timur-red), calon yang
merupakan kerabat kepala daerah setempat kalah. Itu karena bupatinya
terkonsentrasi pada pemenangan gubernur. Sehingga konsentrasi tidak terfokus.
Banyak ASN yang justru tidak memberikan dukungan karena kurang dikontrol dan
berpindah pilihan," urainya.
Kalau di Tomohon baginya, kerabat walikota
tumbang karena memang calon yang diajukan Golkar itu kalah start dalam
melakukan sosialisiasi ke publik. Sementara Golkar tidak solid memobilisasi
dukungan. "Tokoh Golkar seperti ibu Syerly Adelyn Sompotan, justru
mendukung calon dari PDIP," paparnya.
Selanjutnya di Bitung, petahana tumbang karena ia
kerja sendiri. Nasdem sebagai partai pengusung dinilai tidak banyak terlibat
dalam penggalangan suara. Apalagi elit-elit Nasdem lain terkonsentrasi juga
mendukung kader Nasdem lain yang berkompetisi di tingkat Provinsi.
"Kalau di Manado, kerabat walikota kalah
karena terpecahnya konsentrasi ASN dan aparat kelurahan dalam memberikan
dukungan antara PAHAM (Paulina Runtuwene-Harley Mangindaan-red) dan kepada pak
Mor (Mor Bastiaan-red). Ketika dukungan aparat terbagi merata maka AA (Andrei
Angouw-red) dan Icad (Richard Sualang-red) mendapat suara mayoritas,"
ungkapnya.
Dijelaskannya, seandainya di Pilkada Manado hanya
salah satu yang tampil antara PAHAM atau Mor maka kondisinya bisa berbeda.
Sebab bisa saja ASN dan aparat akan terkonsentrasi pada satu dukungan.
"Namun demikian, ODSK (Olly Dondokambey dan Steven Kandouw-red) juga
memberikan pengaruh besar terhadap kemenangan di 6 kabupaten kota. Artinya
masyarakat yang memilih PDIP untuk calon gubernur, secara linier memilih juga
calon usungan Parpol Moncong Putih di kabupaten kota," jelasnya.
Kemampuan ODSK menjaga harmonisasi selama 5 tahun
menjabat menjadi daya tarik pemilih. Masyarakat disebutnya muak dan tidak
percaya dengan kepala daerah yang hanya menghabiskan waktu berkonflik dengan
wakilnya ketimbang melayani rakyat. "Dan itu banyak dilakonkan di sejumlah
kabupaten kota selama ini," urainya. (arfin tompodung)